<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dodi Iswandi Mauliawan&#039;s</title>
	<atom:link href="http://dodi.iswandi.mauliawan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dodi.iswandi.mauliawan.com</link>
	<description>secepat apa engkau berlari, Kawan?</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 01:32:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Penantang Yang Nyata</title>
		<link>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/penantang-yang-nyata/</link>
		<comments>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/penantang-yang-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 01:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dodi Iswandi Mauliawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Free Note]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodi.iswandi.mauliawan.com/penantang-yang-nyata/</guid>
		<description><![CDATA[Kau seperti gelisah yang tak pernah risau akan gelombang
Seperti getaran dan getaran
Seperti pelangi yang perlahan menjadi hitam
Seperti penantang yang nyata padahal bukan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kau seperti gelisah yang tak pernah risau akan gelombang<br />
Seperti getaran dan getaran<br />
Seperti pelangi yang perlahan menjadi hitam<br />
Seperti penantang yang nyata padahal bukan</p>
<p>Pagi itu aku terlalu lemah untuk berlari. Setelah keluar dari gang, langsung aku masuk ke dunia mimpi. Sembari bersembahyang dan berdoa, semoga matahari tidak terbit pagi ini. Layaknya kawan lama, doaku dikabulkannya. Pagi itu aku terlalu lemah untuk berlari. Jadi pagi aku kuubah menjadi malam, dan aku dapat beristirahat dengan tenang. Sampai keesokan paginya, aku masih saja terlalu lemah untuk berlari.</p>
<p>Namun malam tetaplah malam. Gelap bukanlah tipe perempuan yang mau diajak kompromi. Harga dirinya dijual mahal, dan aku jijik melihatnya. Ludahku bergoyang, seperti hati yang hancur, terangkai kembali, lalu menjadi bimbang.</p>
<p>Sekarang aku bingung. Saat siang, aku menjadi selemah malam. Saat malam, hatiku menggelisah muram. Hai waktu, maukah kau berteman?</p>
<p>Pada aku, sang penantang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/penantang-yang-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisata Hati di Pulau Penyengat</title>
		<link>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/wisata-hati-di-pulau-penyengat/</link>
		<comments>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/wisata-hati-di-pulau-penyengat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 04:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dodi Iswandi Mauliawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodi.iswandi.mauliawan.com/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[Penyengat itu kampungnya melayu, boi! Raja – raja beristirahat disini, bahkan sampai saat ini. Gurindam Dua Belas, hasil gubahan pujangga melayu sekaligus pahlawan sastra Indonesia; Raja Ali Haji, juga lahir disini. Jika engkau ingin mengenal melayu dari akarnya, datanglah ke sini!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Akhirat itu terlalu nyata<br />
Kepada hati yang tidak buta</em></p>
<p>-Bait terakhir Gurindam 12-</p></blockquote>
<p>Penyengat itu kampungnya melayu, boi! Raja – raja beristirahat disini, bahkan sampai saat ini. Gurindam Dua Belas, hasil gubahan pujangga melayu sekaligus pahlawan sastra Indonesia; Raja Ali Haji, juga lahir disini. Jika engkau ingin mengenal melayu dari akarnya, datanglah ke sini!</p>
<p>15 menit kurang lebih waktu yang harus ditempuh untuk mencapai Pulau Penyengat dari dermaga di Tanjungpinang. Pompong nama kendaraannya, mesin bising yang menggerakkannya, belasan orang muatannya, dan amboi kali goyangannya pas dihantam ombak.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://dodi.iswandi.mauliawan.com/wp-content/uploads/2010/07/penyengat.jpg" alt="" width="400px" /></p>
<p>Bangunan berwarna kuning yang menjulang paling tinggi dibanding bangunan – bangunan lainnya itu adalah Masjid Penyengat. Konon, Masjid ini dibangun bersama – sama oleh rakyat, dengan campuran putih telur ayam pada adukan semennya. Kompleksnya berukuran 54 X 32 meter dan luas bangunan induknya 29 X 19 meter. Di dalam masjid tersebut, ada semacam museum kecil. Beberapa di antara koleksinya adalah Al Quran tulisan tangan yang dibuat beradab – abad silam. Segar hatiku ketika masuk ke dalamnya. Begitu tenang, begitu nyaman. Mungkin ini juga yang dirasakan para bangsawan melayu dahulu.</p>
<p>Selain masjid Penyengat, sebenarnya masih banyak situs yang menjadi titik kunjung para wisatawan. Hampir kesemuanya adalah makam para raja. Memang, Penyengat bukanlah tujuan yang pas jika hendak memanjakan diri. Umumnya, wisatawan yang datang adalah warga melayu (yang tersebar ke Singapura, Malaysia, sekitar Indonesia lainnya, dsb.), dan tujuan mereka datang adalah menziarahi makam para leluhur. Kedatangan para wisatawan juga musiman, biasanya menjelang hari besar Islam atau akhir minggu.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://dodi.iswandi.mauliawan.com/wp-content/uploads/2010/07/penyengat2.jpg" alt="" width="400px" /></p>
<p>Berhubung aku sudah kenal dengan Penyengat, begitu juga dengan situs – situsnya, maka yang aku lakukan ketika berkunjung ke Penyengat kemarin hanyalah duduk – duduk melepas penat di bukit kursi. Mantap kali pemandangannya. Di bukit ini juga, ada belasan meriam yang sudah pensiun sejak jaman Belanda dulu. Saranku, jangan lupa bawa kertas dan pena untuk menulis puisi.</p>
<p>Tamatlah wisata singkatku ini. Es campur dan opak saos gula merah menjadi penutupnya. Seperti yang aku bilang, penyengat bukanlah tempat yang pas untuk memanjakan diri, tetapi tempat yang pas untuk memanjakan hati. Tidak heran mengapa Raja Ali Haji dapat menciptakan Gurindam Dua Belas yang fenomenal itu disini, di tanah melayu yang menenangkan jiwa ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/wisata-hati-di-pulau-penyengat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Begitu Dalamnya Aku Terpuruk Malam Ini</title>
		<link>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/begitu-dalamnya-aku-terpuruk-malam-ini/</link>
		<comments>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/begitu-dalamnya-aku-terpuruk-malam-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 14:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dodi Iswandi Mauliawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Free Note]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodi.iswandi.mauliawan.com/?p=1402</guid>
		<description><![CDATA[Dan apabila disodorkan kepadamu sebuah wajah
Cukup sebuah
Dengan senyum di tangan kirinya, dengan ketulusan di tangan kanannya
Mana yang akan kau lupakan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan apabila disodorkan kepadamu sebuah wajah<br />
Cukup sebuah<br />
Dengan senyum di tangan kirinya, dengan ketulusan di tangan kanannya<br />
Mana yang akan kau lupakan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/begitu-dalamnya-aku-terpuruk-malam-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mirisnya Pergaulan Emak &#8211; Emak</title>
		<link>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/mirisnya-pergaulan-emak-emak/</link>
		<comments>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/mirisnya-pergaulan-emak-emak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 04:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dodi Iswandi Mauliawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Surrounding Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodi.iswandi.mauliawan.com/?p=1399</guid>
		<description><![CDATA[Malam harinya, Bunda mengajakku (lebih tepatnya memaksa) untuk pergi ke kantor polisi di Tanjungpinang pada hari Senin. Seumur hidupku, tidak pernah kulihat baik Ayah maupun Bunda mendatangi kantor polisi. Mereka adalah tipikal orang yang menghormati hukum. Namun lihatlah kini, Bunda mengajakku datang ke kantor polisi untuk membuat SIM dengan cara curang, tanpa melalui tes. Istilah kedai kopinya, nembak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jum’at kemarin, Bundaku mengunjungi rumah kawannya, sesama istri pegawai Antam juga. Bagi orang asli kota besar seperti mereka, janjian berkunjung dan kemudian ngobrol ini dan itu adalah satu – satunya hiburan sosial di kota kecil yang sepi ini. Itulah dia cara emak – emak bergaul.</p>
<p>Malam harinya, Bunda mengajakku (lebih tepatnya memaksa) untuk pergi ke kantor polisi di Tanjungpinang pada hari Senin. Seumur hidupku, tidak pernah kulihat baik Ayah maupun Bunda mendatangi kantor polisi. Mereka adalah tipikal orang yang menghormati hukum. Namun lihatlah kini, Bunda mengajakku datang ke kantor polisi untuk membuat SIM dengan cara curang, tanpa melalui tes. Istilah kedai kopinya, nembak.</p>
<p>Kata Bunda, proses pembuatan SIM dengan cara curang tersebut sangatlah mudah, bahkan tetangga kami yang masih kelas satu SMA saja bisa membuatnya sendirian. Cukup datang, parkirkan motor di pelataran taman samping kantor, masuk melalui pintu yang ada tulisan ‘bukan untuk umum’, senyum sedikit jika bertemu pak polisi, sempatkan berbasa – basi secukupnya jika ditanya, lalu langsung menembak ke persoalan saat bertemu dengan pak polisi yang berwenang. Dana yang harus disiapkan tentu lebih besar beberapa ratus ribu, karena ada beberapa mulut lain yang harus disuapi. Mendengarnya, aku langsung tahu, inilah hasil dari pergaulan emak – emak.</p>
<p>Jadi pergilah kami pagi ini. Aku dengan mataku yang sembab karena baru tidur selama 4 jam, dan Bunda dengan kepuasannya sambil membayangkan ketika pertemuan emak – emak berikutnya, Bunda dapat mengibas – ngibaskan SIM haram tersebut di depan emak – emak lainnya. Asal kau tahu kawan, perjalanan itu tidaklah singkat. Setidaknya 20 kilometer aspal telah membentang dari rumahku sampai ke kantor polisi. Terkadang aspal tersebut juga tidak mulus, bahkan ada juga aspal yang sama – sekali tidak dilewati karena tanah dibawahnya longsor, jatuh ke jurang saat hujan datang. Belum lagi cuaca yang tidak dapat ditebak, kadang panasnya menyengat, kadang juga tiba – tiba gelap seakan badai akan datang. Dan yang paling parah dari perjalanan itu adalah bocornya ban Cinta (motorku manisku sayangku). Syukurnya ada bengkel motor yang tidak terlalu jauh di pinggiran kota.</p>
<p>Benar kata ibunya Fong Sai Yuk di salah satu film silat Jet Lee. Wanita itu, semakin cantik dia, semakin susah ditebak juga. Bersyukurlah aku mempunyai Bunda yang cantik, tapi sekaligus meringis juga karena selain sifatnya yang susah ditebak, tajam pula perkataan orang yang penasaran kenapa kegantenganku tidak setimpal dengan kecantikan beliau. Pagi ini juga beliau minta kami singgah sebentar dimana saja untuk membeli pulpen. Aku bawalah ke toko buku 2 ruko yang baru buka. Aih, malah omelannya menjadi bertubi – tubi. Gengsi katanya kalo masuk toko buku sebesar itu dan cuma membeli sebatang pulpen murahan. Sesampainya di samping kantor polisi, berjalanlah beliau masuk ke sebuah supermarket 4 ruko, dan keluar lagi dengan sebatang pulpen murahan.</p>
<p>Kami melakukan hal yang sama seperti yang tertulis pada paragraf 3. Kemudian di dalam ruangan sang pak polisi yang berwenang, pak polisi tersebut menjawab: “Tidak bisa Bu. Pastilah harus melewati tes teori terlebih dahulu. Selain itu, alat foto kami sudah seminggu ini rusak. Sekitar dua – tiga minggu lagi baru datang penggantinya dari Jakarta.”</p>
<p>Sia – sia sudah 40 kilometer yang kami tempuh. Sia – sia sudah jam 8 sampai 10 milikku yang seharusnya bisa dipakai untuk tidur seperti biasanya. Tapi aku tersenyum, kenyang menertawai mirisnya pergaulan emak – emak saat ini.</p>
<p>Lihat sisi baiknya, cinta kini punya ban dalam baru :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/mirisnya-pergaulan-emak-emak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibalik Dwilogi Padang Bulan &amp; Andrea Hirata</title>
		<link>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/dibalik-dwilogi-padang-bulan-andrea-hirata/</link>
		<comments>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/dibalik-dwilogi-padang-bulan-andrea-hirata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 13:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dodi Iswandi Mauliawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodi.iswandi.mauliawan.com/behind-dwilogi-padang-bulan-andrea-hirata/</guid>
		<description><![CDATA[Satu sifat yang sempurna dari mozaik adalah bahwasanya mozaik sekalipun dirangkum menjadi satu kesatuan dengan paksa, tidak mungkin dapat di satu tafsirkan. Andrea telah menyelipkan rahasia ini dibalik semua karya – karyanya dengan cerdas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu kali saya bertemu dengan Andrea pada pertengahan 2009. Saat itu Andrea diundang Dinas Perpustakaan Provinsi Kepulauan Riau dalam acara bedah bukunya di Hotel Rainbow, Tanjungpinang. Adapun saya, adalah salah satu peserta bedah buku tersebut. Juga saya, adalah orang yang rambut saya diejeknya habis – habisan. Sepertinya Andrea tidak sadar, rambut siapa yang lebih aneh diantara kami berdua.</p>
<p>Juga pernah saya bertemu dengan Gary Kasparov. Dia adalah grand master catur dunia. Orang yang diklaim mempunyai IQ diatas 190. Namun tanpa perlu membandingkan cara mereka meminum kopi maupun melirikkan mata, saya percaya Andrea lebih cerdas dibanding Kasparov. Lalu ketika banyak orang yang saat ini menganggap Andrea sebagai pembual belaka, ketika Mimpi – Mimpi Lintang digonjang &#8211; ganjingkan, ketika Andrea menjawab berbagai tuduhan kepadanya dengan cerdas, saya memperhatikan Andrea dari depan laptop, depan televisi, juga depan koran, sambil cekikikan. Inilah dia mozaik Andrea yang paling cerdas.</p>
<p>Yap, Mozaik. Sudah ada ratusan mozaik yang Andrea bagikan melalui novel – novelnya. Ada kalanya mozaik yang berlengkapan saling melengkapi satu sama lain, ada kalanya juga mozaik yang satu terkesan dianak tirikan, sampai akhirnya dipertemukan jodohnya dengan mozaik lain yang terpisah di lain buku. Juga ada mozaik yang membujang sampai akhirnya lapuk, berharap akan dipertemukan jodoh dengan mozaik lainnya di masa yang akan datang.</p>
<p>Golongan kontra melihat karya – karya Andrea sebagai mozaik yang lengkap, ngawur, terlalu misterius, dan tidak lebih dari sekedar bualan. Mereka menuntut secara berlebihan. Padahal menurut saya, mozaik memanglah seperti yang diciptakan Andrea; misterius, membuat orang semakin bertanya. Dan pastinya mozaik adalah mozaik, mereka adalah analogi bintang di langit yang tidak selamanya harus menciptakan suatu kesatuan. Pahami mozaik &#8211; mozaik tersebut dengan cara yang diinginkan Andrea, maka pastilah anda mampu menafsirkannya.</p>
<p>Ninochka Stronovsky misalnya. Silahkan cari di google, cari di koran &#8211; koran lama, cari dia sampai ke Rusia sana. Ninochka adalah mozaik lain dalam diri Andrea. Mengapa anda harus mencarinya di sana &#8211; sini, sementara anda tahu Ninochka berasal hanya dari dan hanya untuk Andrea. Bukankah anda, yang mencarinya kesana &#8211; sini itu, adalah bagian dari orang yang ingin menafsirkan mozaik Andrea dengan paksa?</p>
<p>Satu sifat yang sempurna dari mozaik adalah bahwasanya mozaik sekalipun dirangkum menjadi satu kesatuan dengan paksa, tidak mungkin dapat di satu tafsirkan. Andrea telah menyelipkan rahasia ini dibalik semua karya – karyanya dengan cerdas. Dan saya, sama seperti 3 tahun lalu, tetap mengagumi kecerdasannya.</p>
<p>Jadi, Qui Genus Humanum Ingenio Superavit, Lintang atau Ikal atau Andrea Hirata?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodi.iswandi.mauliawan.com/dibalik-dwilogi-padang-bulan-andrea-hirata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
