Subscribe via RSS Feed

Mirisnya Pergaulan Emak – Emak

Jum’at kemarin, Bundaku mengunjungi rumah kawannya, sesama istri pegawai Antam juga. Bagi orang asli kota besar seperti mereka, janjian berkunjung dan kemudian ngobrol ini dan itu adalah satu – satunya hiburan sosial di kota kecil yang sepi ini. Itulah dia cara emak – emak bergaul.

Malam harinya, Bunda mengajakku (lebih tepatnya memaksa) untuk pergi ke kantor polisi di Tanjungpinang pada hari Senin. Seumur hidupku, tidak pernah kulihat baik Ayah maupun Bunda mendatangi kantor polisi. Mereka adalah tipikal orang yang menghormati hukum. Namun lihatlah kini, Bunda mengajakku datang ke kantor polisi untuk membuat SIM dengan cara curang, tanpa melalui tes. Istilah kedai kopinya, nembak.

Kata Bunda, proses pembuatan SIM dengan cara curang tersebut sangatlah mudah, bahkan tetangga kami yang masih kelas satu SMA saja bisa membuatnya sendirian. Cukup datang, parkirkan motor di pelataran taman samping kantor, masuk melalui pintu yang ada tulisan ‘bukan untuk umum’, senyum sedikit jika bertemu pak polisi, sempatkan berbasa – basi secukupnya jika ditanya, lalu langsung menembak ke persoalan saat bertemu dengan pak polisi yang berwenang. Dana yang harus disiapkan tentu lebih besar beberapa ratus ribu, karena ada beberapa mulut lain yang harus disuapi. Mendengarnya, aku langsung tahu, inilah hasil dari pergaulan emak – emak.

Jadi pergilah kami pagi ini. Aku dengan mataku yang sembab karena baru tidur selama 4 jam, dan Bunda dengan kepuasannya sambil membayangkan ketika pertemuan emak – emak berikutnya, Bunda dapat mengibas – ngibaskan SIM haram tersebut di depan emak – emak lainnya. Asal kau tahu kawan, perjalanan itu tidaklah singkat. Setidaknya 20 kilometer aspal telah membentang dari rumahku sampai ke kantor polisi. Terkadang aspal tersebut juga tidak mulus, bahkan ada juga aspal yang sama – sekali tidak dilewati karena tanah dibawahnya longsor, jatuh ke jurang saat hujan datang. Belum lagi cuaca yang tidak dapat ditebak, kadang panasnya menyengat, kadang juga tiba – tiba gelap seakan badai akan datang. Dan yang paling parah dari perjalanan itu adalah bocornya ban Cinta (motorku manisku sayangku). Syukurnya ada bengkel motor yang tidak terlalu jauh di pinggiran kota.

Benar kata ibunya Fong Sai Yuk di salah satu film silat Jet Lee. Wanita itu, semakin cantik dia, semakin susah ditebak juga. Bersyukurlah aku mempunyai Bunda yang cantik, tapi sekaligus meringis juga karena selain sifatnya yang susah ditebak, tajam pula perkataan orang yang penasaran kenapa kegantenganku tidak setimpal dengan kecantikan beliau. Pagi ini juga beliau minta kami singgah sebentar dimana saja untuk membeli pulpen. Aku bawalah ke toko buku 2 ruko yang baru buka. Aih, malah omelannya menjadi bertubi – tubi. Gengsi katanya kalo masuk toko buku sebesar itu dan cuma membeli sebatang pulpen murahan. Sesampainya di samping kantor polisi, berjalanlah beliau masuk ke sebuah supermarket 4 ruko, dan keluar lagi dengan sebatang pulpen murahan.

Kami melakukan hal yang sama seperti yang tertulis pada paragraf 3. Kemudian di dalam ruangan sang pak polisi yang berwenang, pak polisi tersebut menjawab: “Tidak bisa Bu. Pastilah harus melewati tes teori terlebih dahulu. Selain itu, alat foto kami sudah seminggu ini rusak. Sekitar dua – tiga minggu lagi baru datang penggantinya dari Jakarta.”

Sia – sia sudah 40 kilometer yang kami tempuh. Sia – sia sudah jam 8 sampai 10 milikku yang seharusnya bisa dipakai untuk tidur seperti biasanya. Tapi aku tersenyum, kenyang menertawai mirisnya pergaulan emak – emak saat ini.

Lihat sisi baiknya, cinta kini punya ban dalam baru :)

Category: Story of My People

Comments (2)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. dephhod says:

    cinta ko belum kejual2 doi ??
    sape make ??
    kemaren ada yang nyari begituan , nawar 7 jetii
    mau lu ?

Leave a Reply