Subscribe via RSS Feed

Wisata Hati di Pulau Penyengat

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

-Bait terakhir Gurindam 12-

Penyengat itu kampungnya melayu, boi! Raja – raja beristirahat disini, bahkan sampai saat ini. Gurindam Dua Belas, hasil gubahan pujangga melayu sekaligus pahlawan sastra Indonesia; Raja Ali Haji, juga lahir disini. Jika engkau ingin mengenal melayu dari akarnya, datanglah ke sini!

15 menit kurang lebih waktu yang harus ditempuh untuk mencapai Pulau Penyengat dari dermaga di Tanjungpinang. Pompong nama kendaraannya, mesin bising yang menggerakkannya, belasan orang muatannya, dan amboi kali goyangannya pas dihantam ombak.

Bangunan berwarna kuning yang menjulang paling tinggi dibanding bangunan – bangunan lainnya itu adalah Masjid Penyengat. Konon, Masjid ini dibangun bersama – sama oleh rakyat, dengan campuran putih telur ayam pada adukan semennya. Kompleksnya berukuran 54 X 32 meter dan luas bangunan induknya 29 X 19 meter. Di dalam masjid tersebut, ada semacam museum kecil. Beberapa di antara koleksinya adalah Al Quran tulisan tangan yang dibuat beradab – abad silam. Segar hatiku ketika masuk ke dalamnya. Begitu tenang, begitu nyaman. Mungkin ini juga yang dirasakan para bangsawan melayu dahulu.

Selain masjid Penyengat, sebenarnya masih banyak situs yang menjadi titik kunjung para wisatawan. Hampir kesemuanya adalah makam para raja. Memang, Penyengat bukanlah tujuan yang pas jika hendak memanjakan diri. Umumnya, wisatawan yang datang adalah warga melayu (yang tersebar ke Singapura, Malaysia, sekitar Indonesia lainnya, dsb.), dan tujuan mereka datang adalah menziarahi makam para leluhur. Kedatangan para wisatawan juga musiman, biasanya menjelang hari besar Islam atau akhir minggu.

Berhubung aku sudah kenal dengan Penyengat, begitu juga dengan situs – situsnya, maka yang aku lakukan ketika berkunjung ke Penyengat kemarin hanyalah duduk – duduk melepas penat di bukit kursi. Mantap kali pemandangannya. Di bukit ini juga, ada belasan meriam yang sudah pensiun sejak jaman Belanda dulu. Saranku, jangan lupa bawa kertas dan pena untuk menulis puisi.

Tamatlah wisata singkatku ini. Es campur dan opak saos gula merah menjadi penutupnya. Seperti yang aku bilang, penyengat bukanlah tempat yang pas untuk memanjakan diri, tetapi tempat yang pas untuk memanjakan hati. Tidak heran mengapa Raja Ali Haji dapat menciptakan Gurindam Dua Belas yang fenomenal itu disini, di tanah melayu yang menenangkan jiwa ini.

Category: Travelling

Leave a Reply